Cari Blog Ini

Kamis, 01 Oktober 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 202 - NOVEL GRATIS

panti-panti pijat yang tidak membedakan laki-laki dan perempuan.  Ah… kayanya sih boleh.  Apalagi ini, terpaksa…, agar aku dapet duit untuk di kirim ke orang tuaku yangsangat membutuhkan duit.  Udah itu agar aku bisa membantu kesulitan Shafiya dan Aliya dan tentu saja agar aku dapat menyicil pada abuya.
“Kakinya aja dulu Ali!”
“Iya madam”
“Ah…, jangan panggil aku madam, ga` enak”
“Abis harus saya panggil apa?”
“Karena akulebih tua dari kamu, panggil saja aku mbak, kedengarannya kan lebih enak!”
“Baiklah kalau begitu madam”
“Eh madam lagi!”
“Oh ya mbak!”
“Yap!” kakinya aku pegang, tanganku mulai memijitnya, perlahan, dan perlahan sekali, tetapi makin keras.  Aku mulai mengukur seberapa besar daya tahan tubuh Nur`aini, agak keras lagi hingga dia mengaduh kesakitan sambil duduk sila di atas kasur. “Aduuhh…, jangan keras-keras Ali!”.  Aneh matanya yang tadi nampak bersinar dantertawa-tawa dengan kawan-kawannya, kini sepertinya nampak kuyu dan berkaca-kaca.  Sepertinya dia menahan kegelisahahan yang teramat sangat, tapi ragu untuk mengatakan pada siapapun.
“Aduhh mbak maaf yaa, sakit banget yaa?”
“Ah tidak apa-apa kok Ali”
“Itu, mbak kelihatan seperti sedih gitu?”                 
“Oh itu, tidak apa-apa!”
“Udah lah berbaring kembali, bukanya tadi mbak mau saya pijet?”
Akhirnya dia kembali berbaring.
Setiap kali ganti posisi dia menyempatkan diri untuk duduk menghadapku.  Sperti ada yang hendak di ceritakannya, tapi masih ragu.  Di matanya kadang aku lihat pancaran mata seperti mata Shafiya ketika ingin bercinta.  Wajar, walau bagaimanapun dia wanita dan aku priya.  Tapi aku pura-pura tak melihatnya.
Sejak saat ini, hubunganku dengan Nur`aini jadi tambah akrab. Meskipun usia kami beda hampir sepuluh tahun. Setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali dia minta aku pijitin..  Aku jadi tahu banyak tentang kehidupan pribadinya. 
Walau penuh keraguan, aku jalani saja profesi ini. Habis mau gimana lagi. Aku butuh banyak uang untuk dapat bertaan hidup di sini dan menolong orang-orang tercintaku.  Lumayan, Nur`aini bisa memasok real ke sakuku tak kurang dari seribu real sebulan.  Inikah jalan kaya itu.  Remang dan mesum.  Entahlahh…




Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar