Cari Blog Ini

Kamis, 01 Oktober 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 201 - NOVEL GRATIS

“Udah madam”
“Kamu lihat apa tadi?”
“Ah tidak lihat apa-apa kok madam?!”
“Bagus, kamu jangan cerita apa-apa tentang apa yang kamu lihat di kamarku, ngerti Ali?”
“Ngerti madam”,  jawbku sambil mbatin, rupanya bener, ada yang Nur`aini sembunyikan di sini.  Ah bodo amat, yang penting dia baik padaku dan yang pentiing.. dia  suka ngasih duit.  Ceilehh…
“Ali bisa tolong aku tidak?”
“Ya madam”
“Tolong ambilkan air hangat!”
“Baik”
Aku ambil air hangat.
Aku berikan pada Nur`aini yang segera meminum obat pegel-pegelnya yang baru saja aku belikan.
“Ali aku bisa minta tolong lagi tidak?”  katanya lebih lanjut
“Iya, minta tolong apa madam?”
“Badanku rasanya capek banget, pegel-pegel, pada sakit, kamu bisa mijitin saya tidak?”
Mendengar kata-kata pijet, aku bingung.  Bukannya malas untuk memijit.  Tapi Nur`aini kan perempuan cantik.  Nanti bisa-bisa ke bablasan. Hiiihh…
Aku jadi inget ketika di  kampung dulu setiap habis ngaji di surau aku di suruh mijitin pak ustadz.  Aku juga inget ketika di suruh mijitin nenekku, di dia bilang tanganku halus sekali.  Aku juga inget ketika di pos kamling prapatan aku sedang di pijitin nenekku karena aku masuk angin sebab seharian bermain-main di tanggul kali.  Naasnya saat itu sebuah pedati menabrak kami.  Dengan sikap nenekku mendorongku ke tempat yang aman hingga dirinya tersodok bung pedati tersebut.  Kuda edan emang. Kuda kecil ( belo ) yang baru di latih membawa pedati.
“Gimana bisa tidak Ali, nanti saya tambahin dech duitnya?!”  Pintanya lagi yang membuatku kaget dan tambah bingung saja.
“Gi… gii…mana ya?”
“Apa kamu belum pernah sebelumnya?”
“Bukan, bukan begitu, bahkan waktu di kampung saya suka mijitin nenek saya”
“Oh bagus lah, ayo cepetan!”
“Iya..!”,  Akhirnya aku mengiyakan juga.
“Di kamar itu aja Ali!”  Kata Nur`aini sambil menunjuk kamar yang mirip ruang praktek para dokter tersebut.
Nur`aini telungkup
Tubuhnya di bungkus rapat baju yang tipis
Aku masih bingung, mana yang harus aku pijit.  Sebab baru kali ini aku harus memijit seorang perempuan.  Bukannya dosa, tak boleh, laki-laki mijit perempuan atau perempuan mijit laki-laki jika bukan istrinya sendiri, muhrimnya atau karena terpaksa?.  Tapi sesaat aku inget para dukun pijet di kampungku.  Para dukun beranak di kampungku.  Bukankah mereka juga biasa memijit para laki-laki .  Terus waktu di Jakarta sepertinya aku juga melihat banyak sekali rumah-rumah dan

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar