Cari Blog Ini

Kamis, 01 Oktober 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 199 - NOVEL GRATIS

“Alharits, bantuin saya angkat barang-barang dari taksi!”
“Baik madam”
Kubuka pintu taxi
Syett…, kenapa supirnya seperti aku kenal, siapa ya? Ah apa mungkin laki-laki yang menipuku di jalan itu.  Tapi aku tak yakin juga.  Aku memilih diam dan menurunkan semua barang-barang milik Nuraini.

Taxi pergi
Aku langsung saja masuk kamar no 5 yang memang telah terbuka
Seperti biasanya barang-barang tersebut langsung saja aku letakkan di meja makan yang ada di dapur.  Kali ini aku lihat dapurnya kotor sekali, seperti seminggu tak di bersihkan.  Heran, kamar wanita kok sampe kaya gini.
Ketika hendak keluar Nur`ani memanggil, “Al-Harits kemarilah?”
“Nama kamu itu siapa sih ya?”
“Saya Ali Ahmad madam?!”
“Ali, ini saya kasih lima puluh real, tapi aku minta kamu bersihkan semua tempatku sekarang, terus setiap tiga hari sekali kamu harus bersihkan tempatku ini?”
“Baik madam”, sambutku girang, setengah berjingkrak dan refleks aku cium tangan Nur`ani yang tengah memberikan beberapa lembar real.  Aneh…, dia seperti membiarkan tangannya aku cium, bahkan seperti sengaja tak melepaskannya dari tanganku. Aku jadi merasa aneh, kikuk gitu, apalagi ketika aku ingat saat bersama Shafiya beberapa waktu yang lalu.
“Makasih madam”
“Iya iyaa, tapi kamu juga mesti membantu beberapa tamu saya yang pada datang kemari yaa!”
“Oh soal itu, beres madam”
Kemudian aku membersihkan semua ruangan milik Nur`aini.  Dengan senang hati tentunya.  Kegembiraan sungguh aku rasakan saat ini.  Ada semacam harapan jika dari kamar ini aku dapat mengambil banyak uang.  Plus jalan kaya yang tertutup rapat seperti dapat aku intip kembali.
Ketika aku bersihkan ruangannya, ada satu kamar yang aku rasakan aneh. Kamar ini sepertinya bukan kamar tempat tinggal tetapi mirip sebuah kamar rumah sakit, kamar tempat praktek para dokter.  Di dinding kamar nampak beberapa gambar anatomi tubuh perempuan, terutama bagian wajah.  Di sudut kamar di atas sebuah meja kecil nampak beberapa peralatan suntik dan juga peralatan bedah.

“Ihh… apa mungkin Nur`aini buka praktek di rumah?”, batinku.  Mungkin juga, itu sebabnya dia menyuruhku melayani tamu-tamunya.  Tapi jika abuya tahu jelas takkan di ijinkannya, sebab dia ngontrak di sini hanya untuk tempat tingal, tapii… jika kemudian abuya di kasih duit sih aku tak tahu.  Yah gitulah watak abuya emang mata duitan.  Ngerinya lagi jika Nur`aini buka praktek secara ilegal waah jika ketiban apes bisa parah.  Di gerebeg polisi mampuss.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar