Cari Blog Ini

Kamis, 01 Oktober 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 195 - NOVEL GRATIS

Untung juga sih aku tak ada, sebab udah bisa di tebak pastideh mereka marah-marah saat mendapatkanku ada.  Begitulah sifat mereka, kayanya selalu penuh amarah dan jauh dari keramahan.  Pengaruh hawa kota metropolitan kali yaa…  Dan jika terjadi sedikit gangguan atau kesalahan aja sudah cukup bagi mereka untukjadi alasan menumpahkan semua amarah dan marah.
Baru menjelang jam sepuluh nomor 666 di panggil dan aku segera menyodorkan nomor yang dari tadi aku pegang untuk di tuker dengan nomor mobil yang dapat aku bawa.
Yesss…!!!
Akhirnya aku dapat pulang juga dengan membawa sebuah tangki besar penuh dengan air bersih.  Pertama mendengar cerita tentang air ini, aku terkagum-kagum.  Bagaimana tidak, air laut yang tadinya asin kini telah di sulap menjadi air tawar yang siap untuk di konsumsi oleh orang-orang sini.  Mugkin karena keadaan juga ya, coba kalau di Indonesia, tak harus minum air asin kaya gini sebab air tawar aja begitu berlimpah, bahkan tak jarang banyak daerah di Indonesia kebanjiran karena kelebihan setok air tawar.
Bersama seorang supir kulit hitam  berrambut brindil, kutelusuri jalanan kota Jeddah menuju ke apartemen abuya.  Tak seperti orang kulit hitam yang sering mengikuti atau sekedar kebetulan bertemu denganku sejak di Kota Karachi Pakistan, orang kulit hitam ini nampaknya ramah.  Sepanjang perjalanan bahkan kami terus saja ngobrol tentang kehidupan orang-orang Somalia dan tentu saja kehidupan orang-orang Indonesia.  Baik di kampung halaman maupun nasib kami-kami di sini.  Ihhh… ternyata masih banyak orang-orang yang bernasib lebih menyedihkan daripada kehidupanku di kampung sana. Mestinya aku bersyukur kan, tapi kenapa ya tak bisa?
Hingga>>>
Aku lihat seperti ada sebuah mobil yang terus mengikuti mobil tangki yang kami tunggangi.  Mendekat dan menjauh, jaga jarak dariku.  Aku coba katakana ini pada supir,
            “Pak, seperti ada yang mengikuti kita?”
            “Iya, aku juga sudah tahu, biarin aja asal tidak sampai mengganggu kita”, jawabny acuh, seperti tak terpengaruh dengan orang yang mengikuti tersebut.
            “Iya ya pak, biarin aja”,  sambutku sambil mencoba menebak-nebak kira-kira siapa yang mengikutiku tersebut.  Orang di tempat pembelian air itukah, orang kulit hitam dari Karachi Pakistan itukah, orang yang menipuku di Jalan itukah atau siapa?,  Tapi kenapa juga mereka terus mengikutiku.
            Kuintip lagi dari jendela dan Sepion
            Dia tetap mengikuti
            Ahh…Persyetan
            Hingga>>>
            Ketika kami telah berhenti di depan apartemen abuya, sempet aku lihat mobil yang mengikuti tersebut berhenti beberapa saat.  Kemudian pergiii…
Meskipun tak penuh tapi cukuplah air yang aku beli untuk bertahan satu atau dua hari hingga air datang lagi.  Baru aku harus antri

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar