Cari Blog Ini

Kamis, 01 Oktober 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 193 - NOVEL GRATIS

Bahkan beli saja kadang airnya tidak ada.  Antrinya itu loh, ihhh… lama banget, karena ribuan orang yangdatang mau beli air.  Bayangkan saja, jika satu kota kekurangan air, otomatis semuanya akan beli air bersih secara bersamaan sementara setok airnya sangat terbatas.
“Udah kamu telepon aja Salamah, suruh dia ngater kamu beli air!”, saran Ghulam
“Boleh juga nih, ya udah aku telepon salam dulu yaa!”  Kataku sambil pergi meninggalkan ghulam menuju ke wartel terdekat.  Aduh males banget nih, kenapa mesti telepon dia, bukannya baru tadi pagi dia mara-marah padaku.  Tapi gimana lagi?  Dari pada aku nanti di marahi orang satu kontrakan gara-gara tidak ada air.  Lebih gawat lagi, mereka bisa kehilangan simpati dan sulit memberi baksis-baksis yang bagiku itu sangatlah berharga.
Akhirnya aku telepon juga Salamah dan baru lewat tengah hari dia datang.  Katanya sekalian jemput anak-anak sekolah.  Sialan banget kan.  Udah gitu dia masih tak percaya lagi.  Ketika tahu airnya emang bener- bener kosong, ehh truss ngomel-ngomel, lagaknya kaya majikan aja.
Masih dengan muka cemberut, salamah duduk di belakang setir mobil yang meluncur di jalan Al-Madinah Road, cukup kencang, kemudian berbelok kea rah jalan Al-Amir Abd Allah Street dan berhenti di sebuah daerah tempat pengolahan air.
“Ya wis ya, aku tinggal dulu, sing cepet dapet air yaa…!!”  Kata Salamah sambil meninggalkanku di antara ratusan orang-orang yang antri untuk mendapatkan nomor.  Kami harus berbaris panjang sekali.  Berdesak-desakan.  Sementara loket masih di tutup. Bukannya tak ada nomor, tapi setok airnya emang terbatas.  Meski begitu aku tetap saja berdiri di tengah-tenag antrian.  Sebab jika tak mau antri maka selamanya takkan mendapatkan jatah air.
Satu jam kemudian loket nampak di buka.  Satu persatu kami mendapatkan nomor untuk pengambilan air.  Tetapi baru beberapa puluh saja loket sudah di tutup kembali. Dan kembali aku harus antri di antrian yang tak bergerak.  Baru dua jam kemudian loket di buka kembali dan akhirnya aku dapet juga nomor itu, aku dapet nomor 666.  Kemudian aku masuk ruangan besar di mana ratusan orang sedang menunggu giliran di panggil.  Gila bising banget.  Maklumlah kebanyakan mereka yang antri adalah orang-orang dari golonganku, para harits yangmiskin dan stress karena terus tertekan dengan gaji yang jauh dari kemanusiaan. Brengseks…!!!
Ketika aku berdesak-desakan, mataku menangkap seseorang yang sepertinya terus saja memperhatikanku.  Matanya tajam, hidungnya mancung, tetapi wajahnyaakulihat suram dan jauh dari cahaya.  Kuperhatikan terus, aku merasakan pandangannya, seperti pandangan laki-laki melihat perempan saja.  Seperti pandangankuketika melihat tubuh Shafiya atau Aliya yanghabis mandi dan berdandan di depanku saat aku menginap di penampunagan.  Atau seperti pandangak ketika melihat Nur`aini dan teman-temannya yang berpakaian nyetrit.  Penuh jilatan-jilatan birahi.  Hiihh…!!!


Setelah lama sepertinya dia mendekat

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar