Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 184 - NOVEL GRATIS

“Maaf apa kamu Shafiya dari PT-nya Pak Amir?”  Tanyaku pelan sambil harap-harap cemas.
“Iya iya kok tahu?”  Tanyanya sambil begitu dalam menatap dan mengamati wajahku.  Mungkin berusaha meyakinkan jika dia mengenalku.
“Shaf…, aku itu Ali Ahmad”
“Ali Ahmad…?!”  Katanya sambil memelukku.  Dia mulai menangis tersedu.  Makin keras bersama air mata yang makin deras juga.  Melihat ini Perempuan yang di panggil Aliyapun turut memelukku dan menangis seranya berbisik, “Alii…?!”
“Ya… ini aku…”
“Apa kau juga Aliya penjual Warteg itu?”
“Ya…, ini aku Ali?”
Cukup lama kami larut dalam perasaan sedih entah bahagia.  Aku sendiri tak menyangka dapat ketemu temen-temenku di Jakarta justru dalam keadaan seperti ini.  Sangat menyedihkan.  Yang tak habis pikir, kenapa juga Alliya ada di sini.  Sebab setahuku dia tak pernah bilang jika dia juga mau pergi ke luar negeri.
Setelah reda, kemudian kami menceritakan pengalaman kami masing-masing.  Semuanya menyedihkan.  Sungguh membuat hati kami makin sedih dan ingin menangis bahkan menjerit sejadi-jadinya.
Setelah kita berpisah di Bandara, demikian Shafiya memulai ceritanya, aku menunggu di jemput majikanku hingga satu minggu lamanya.  Bukan hanya aku, di sana juga banyak para TKW-TKW lainnya yang juga menunggu jempautan majikan, bahkan ada yang sampai bermingu-minggu belum juga ada yang menjemput.  Nasib kami di sini tak tentu, di liputi kekhawatiran, bahkan kehidupan di sini keras.
Setelah di jemput, akupun memulai kehidupan baruku sebagai pembantu rumah tangga pasangan orang arab Saudi.  Bisa di bilang keluarga besar.  Aku harus melayani sebuah keluarga dengan empat orang anak, semuanya anak laki-laki dan yang paling besar baru saja menikah. Jadi masih ngumpul dengan orangtua.
Mulanya biasa saja.  Aku berusaha kerja sebaik-baiknya.  Bahkan kadang larut malam aku baru tidur.  Lama kelamaan mulai timbul masalah demi masalah.  Gaji mulai tersendat.  Anak-anaknya mulai nakal.  Bahkan anak terbesar yang baru menikah sepertinya menaruh hati padaku.  Aku diemin aja dan berusaha menjaga jarak dengannya.  Tetapi dasar lelaki biaya kali ya, sepertinya makin jadi aja.
Hingga>>>
Sang istri mengetahui gelagat buruk suaminya tersebut dan akibatnya dia mulai cemburu dan sering marah-marah padaku.  Hal sepele saja di jadikannya alasan untuk memarahiku.  Bahkan dia kadang tak segan-segan memukulku.  Hampir tiap hari aku dapat tamparan dari perempuan brengsek ini, dan hampir tiap hari pula aku selalu di godain oleh suaminya yang juga brengseks.
Hingga>>>
Suatu malam dia berusaha masuk ke kamarku>>>

Merayuku>>>

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar