Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 181 - NOVEL GRATIS

dalam diriku justru tumbuh amaraha dan kemarahan dan bahkan dendam pada abuya yang sama sekali tak memiliki rasa kasihan apalagi pengertian.  Sungguh, beginikah sikap orang-orang kaya itu, mencoba menutup mata dan telinga, bahkan pintu hatinya demi keamanan harta yang mereka milki.  Inikah jalan kaya itu, buta dan tuli serta penuh kesombongan.  Jika benar, betapa terjal dan sunyinya, ohh… sungguh.
“Baik, tidak apa-apa, berarti mulai bulan depan kamu hanya menerima gaji tiga ratus real?”
“Iya abuya”  Gila, selama setahun bisa-bisa aku tak bisa menyimpan uang.  Apalagi mengirimnya ke kampung halaman sebagaimana selayaknya orang yang pergi jauh untuk mencari uang.  Atau tak ada jalan kaya bagiku.  Semuanya terkunci.
“Masih ada yang ingin kamu tanyakan Ali?”
“Tidak ada lagi abuya”
“Ya sudah, abuya masuk dulu ya, ma`a salamah!”  
Abuya pergi
Kini tinggal aku dan Salamah
“Sudahlah Ali, terima saja, bersabarlah, orang sabar di cinta Tuhan YME!”
“Mudah-mudahan kang saya dapat bersabar”
“Kamu mau pulang sendiri atau aku antar?”
“Sendiri aja kang, masih sore kok, lagian deket”
“Ya sudah, tapi hati-hati yah…!”
“Iya kang, ma`a salamah!”
“Ma`a Salamah”

Kembali aku telusuri jalan Al-Madinah
Kali ini seperti tanpa tujuan
Di tempat ketika aku kehilangan uang, aku berhenti untuk beberapa lama.  Melamun.  Merenung.  Kenapa aku sebodoh ini, tertipu oleh keserakahanku sendiri?
Kembali aku telusuri jalan Al-Madinah
Hingga>>>
Ketika aku sampai di tepian taman kota yang agak rimbun, terdengar orang berbisik, mengaduh dan minta tolong.  Iseng-iseng aku menoleh.  Krelab… di antara sinar lampu taman aku lihat seraut wajah asia.  Indonesia baget gitu. Terbersit dalam jiwaku untuk menolongnya.  Ah perduli amat.  Kembali aku langkahkan kaki ini.  Tapi ketika kembali aku dengar rintihan minta tolong itu, “Toloongg…!”, kaki inipun kembali berhenti.  “Tak tega rasanya” 
Kembali aku menoleh ke arah orang yang minta tolong itu.
Kuamati lebih cermat lagi
Aku mulai mendekat dan lebih dekat lagi
“Tolong saya mas!”,  kata si perempuan dari balik cadarnya yang dia tutupi sesaat setelah aku dekat.

“Kamu orang Indonesia?”  Tanyaku memastikan jika orang yang minta tolong emang bener-bener orang yang sebangsa dan setanah air denganku.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar