Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 180 - NOVEL GRATIS

Haiwah min?”  iya, siapa?,  tanya seorang anak kecil dari dalam, rupanya yang mengangkat mikrofon adalah anak laki-laki abuya
Ana Salamah, kallim abuya!”  Saya Salamah, bilang sama abuya!”
Toyyib!”
Beberapa saat kemudian pintu terbuka
Abuya muncul
Nampak di wajahnya keheranan
Mungkin dia bertanya-tanya, kenapa aku datang dengan wajah yang begitu sedih.
Untung Salamah kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpaku.  Lambat laun Abuya mulai mengerti, nampak dari raut muka dan sikapnya yang nampak manggut-manggut.
“Kenapa semua ini bisa terjadi Alli?”,  Tanya Auya
“Entahlah abuya, saya sendiri juga bingung, mungkin saya terkena sihir kali ya?”  Sambutku mencoba memberi alasan.  
“Sihir?”
“Iya, sebab waktu itu saya seperti tidak sadar, apalagi sampai tahu jika uang dalam dompet di ambilnya”
“Ah tidak juga, mungkin kamu hanya lengah saja kurang waspada, paling waktu kamu menoleh dengan secepat kilat orang yang mengaku kehilangan uang mengambil uang dari dompetmu degan cepat!”
“Mungkin juga, untungnya tak di ambil semuanya”
“Iya…, bersyukurlah!”
“Makanya kamu itu harus berhati-hati, tidak semua orang itu baik kaya yang kamu bayangkan, ini kota, yang namanya kota sama saja, rawan kejahatan karena orang harus bertahan hidup, segala macam cara kadang di lakukannya!”
“Iya… iya… besok saya akan lebih hati-hati lagi abuya”
“Terus, urusan uang yang hilang sekarang gimana?”  Tanya abuya lebih lanjut
“Eeeehmm… terserah abuyalah”  awabku tak dapat meberikan jawaban.  Bingung.  Walau hatiku penuh harap abuya akan memaafkan dan tidak memaksaku untuk menggantikan uang yang hilang tersebut.  Bukankah ini musibah.  Siapa pula yang ingin kena musibah kaya gini.  Tapi jika mengingat sifat kikir auya kayanyasih tidak mungkin.
“Baik…, menurut kamu gimana Ali?”
“Menurut saya, biarlah saya ganti uang tersebut setengah”
“Setengah…, tidak bisa, sebab saya harus menyetor uang tersebut sama abuya Ismail di Mekah, bagaimana?”  Sambut Abuya Abdurrahman mencoba memberikan alasan ketidaksetujuanya.
“Bukannya angtersebut hilang saat saya mau mengantarkannya ke rumah abuya?”
“Iya, tapi itukan mutlak kesalahanmu?”
“Ya sudah kalau menurut abuya begitu, tapi saya minta pembayarannya tidak sekaligus, tapi di cicil tiap bulan dengan jalan memotong gaji saya”   Akhirnya aku mnyerah dengan nada lemah.  Tapi

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar