Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 176 - NOVEL GRATIS

setiap kali jalan-jalan duitku pasti bekurang dech dan iu cukup membuatku pusing dan menjadi beban.
“Udah-udah, cukup, kesiangan nih…!”  Katanya sambil menghidupkan mesinnya, menginjak gas dan pergi begitu saja.  Mataku terus memandangi mobil yang meluncur itu. Dengan perasaan kesal, sedih, harapan dan berjuta rasa lainnya yang tak menentu dalam diri.
Uang memang akrab dengan kesombongan dan kesewenang-wenangan.  Pelecehan dan penindasan.  Kebahagiaan dan kesedihan.
Tanpa terasa matahari mulai menyengat kulitku.  Membuatku sadar jika hari telah siang.  Perutku juga mulai menyanyi, minta di isi.
Kulangkahkan kakiku ke sebuah warung tempat sarapan khas masakan Saudi.
Kubeli sebuah tamiz dengan ghalabah, masakan yang biasanya menjadi pasangan tamiz.  Ih… waktu pertama makan rasanya tak enak banget, tapi, lama-lama malahan menjadi menu favorit selama aku di Saudi.
Kujinjing bakal sarapanku tersebut hingga aku menemukan tempat yang cocok untuk sarapan.  Di bawah sebuah pohon yang rimbun dan terlindung dari pandangan orang-orang yang lewat.
Setelah selesai, kembali aku berjalan menuju ke apartemen kedua milik majikanku untuk membersihkannya.  Setiap kali aku kesini, aku menyempatkan diri untuk melihat Mercedes Factory, meskipun jalannya melingkar tetapi selalu timbul impian manakala aku berdiri sambil memandang begitu banyak mobil-mobil mewah di sini.  Tumbuh dalam pikiranku sebuah tanya, Kapankah aku akan dapat memilikinya dan tidak hanya dapat memandang.  Kadang aku berlama-lama di sini sambil sesekali mengusap air mata yang kadang meleleh.
Setelah capek membersihkan imarah, aku juga sering kali duduk di pinggir jalan, di taman kota sambil memandang tugu kapal laut yang di bangun di perempatan jalan. Sementara di tangaku tergenggam sebotol pepsi.  Seperti biasanya, pikiranku juga selalu mengandai-andai.  Ohh,,,
Untung di Jeddah ini hampir setiap masjid menyediakan air minum dan air zam-zam serta kurma sehingga setiap kali aku merasa haus aku dapat mampir ke masjid-masjid yang ada di sini sekedar untuk mengisi perut.  Habis mau beli makanan uang emang tak ada.  Gimana lagi.  Jika orang lain pergi ke masjid untuk beribadah tetapi orang-orangmiskin kaya aku sering kali datang untuk minum air zam-zam dan beberapa butir kurma hingga kenyang.


Jam satu siang, biasanya aku baru bisa beristirahat.  Itupun sering kali di ganggu oleh para penghuni yang meminta tolong inilah itulah.  Kayanya mereka males banget, atau jadi malas gara-gara punya uang.  Belum lagi jika ada tamu yang datang, pokoknya BT abiz dech.  Saat aku matikan bell yang terpasang di kamarku barulah aman, tetapi saat para penghuni mengetahuinya maka mereka akan segera ngomel-ngomel dan melaporkannya pada abuya.  Kembali dia marah-marah.  Kembali aku harus bersedih dan terlempar dalam jurang rasa yang namanya kemiskinan. Belum lagi jikaa…, pokoknya banyak dechh…

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar