Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 154 - 155 - NOVEL GRATIS

Aku tak boleh berpikir, sama sekali tak boleh
Aku harus seperti patung atau mayat saja….

Kemudian Salamah pergi
Kembali aku sendiri
Bersama berjuta rasa yang terus berkembang ngeri
Khawatir
Penuh tanya
Aku mulai menata kamarku. 
Biar bikin betah
Menyesuaikan aura

Pikiranku terus saja kacau.  Bagaimana tidak, hanya dengan uang seratus real, aku harus bertahan hidup selama sebulan di negeri minyak ini.  Di kota metropolitan yang semuanya di hitung dengan uang.  Untung…, untung aku inget pesen ibu, Orang sabar di cinta Tuhan YME.

Lelah>>>
Hari menjelang senja>>>
Kurebahkan tubuhku>>>
Bersama kembalinya sebuah tanya>>>
Kenapa aku di sini, sejauh ini?>>>
Apakah hanya karena amarah dan dendam pada Rudy dan keluarga besarnya yang terus menghina kemiskinanku.  Kemiskinan yang sebenarnya tak aku inginkan.  Kemiskinan yang aku peroleh dengan gratis sejak aku lahir.  Ataukah aku hanya pion dari permusuhan para pendahuluku yang sama sekali aku tak pernah terlibat.
Apakah hanya karena cinta seorang perempuan bernama Fina.  Oh Fina, di mana ka Fina.  Tersentak diriku ketika teringat nama ini. Begitu indah ketika berada bersamanya.  Masih kuingat ketika aku duduk di belakag sekolah, menghadap sawah, menghitung luasnya padi yang menguning, sembari berpegangan jari dan saling memanjakan.  Bermanja-manjaan. Tapi…, sial…!, kemiskinan merenggut semua itu.  Memisahkanku jauh darinya.  Dia di sana dan aku di sini.  Merobek-robek kanvas indah yang aku lukis berssamanya.  Fin… do`akan  aku berhasil dan dapat kembali di sisimu.
Apakah karena yang lainnya…
Entahlah…

Tok… tokk…, pintu kedengaran ada yang mengetok
Segera aku bangkit
Membuka pintu
Eh ternyata orang Pakistan tetangga kamarku
Aku bingung, bagaimana harus menyapa, hanya raut muka dan  gerak badanku mengatakan, “Ada apa?”
Dia rupaya maklum
Tak banyak tanya
“Kul… yalah… Kul…!”  begitu katanya
Meletakkan sepiring nasi dan sepotong ikan ayam dengan kuah yang mirip sekali dengan kuah ayam ketika aku makan di restoran Pakistan itu.  Restoran yang menjadi bagian sejarah gelap para TKW Indonesia.
“Syukron… syukron…!”  Demikian yang dapat aku katakan sebisanya.  Baik juga rupanya orang Pakistan ini.  Tdiak seperti tampangnya.  Tapi, apakah dia benar-enar baik, entahlah.
Bunyi AC begitu nyaring
Membangkitkan perasaaan merinding
Sendirian di kamar asing
Tak tahu apakah kebaikan ataukah kejahatan yang akan menyapa
Duuuh…
Beginikah jalan kaya itu
Sunyi dan penuh ketakutan

  
Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar