Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 153 - NOVEL GRATIS

“Dekt kok, paling jaraknya Cuma dua ratusan meter, nanti kamu bisa nanya harits sebelah, mereka baik-baik kok”
“Iya kang, nanti biar saya cari”
“Hai Salamah?”  Sapa seseorang yang keluar dari kamar di samping kamarku 
“Haiwah, apakabar Ghulam?”  Sambut Salamah
Qais… qais…, min ( siapa ini?)” 
“Oh yaa, kenalin, ini Ali Ahmad harits jadid ( baru )” lanjut Salamah
“Ali…”
“Ghulam…”
Selanjutnya, Salamah mengajakku menaiki apartemen lewat tangga.  Dia menunjukan padaku siapa-siapa saja yang menginap di apartemen ini. Mulai dari kamar pertama hingga kamar nomor lima belas. Dia juga menjelaskan apa-apa saja yang harus aku lakukan pada para penghuni kamar tersebut.  Menjadi pesuruh mereka, membuang sampah yang biasanya di letakkan di depan pintu kamar mereka, menjadi penghubung antara mereka dengan Abuya Abdurrahman, bahkan jika abuya menyuruh aku juga yang mesti mengambil uang sewa mereka.  Jika ada orang yang pindah maka aku harus segera membersihkannya agar siap di huni oleh para penghuni yang baru.
Ah begitu banyak ya.  Belum lagi aku harus mencuci mobil-mobil para penghuni jika mereka memintanya.  Kalau bersih-bersih dan ngepel apartemen, itumah hal yang emang jadi kewajibanku.  Mana apartemennya dua lagi, udah itu jaraknya lumayan jauh, sekitar dua kiloan, dan aku harus menempuhnya dengan jalan kaki.  Pake sepeda, tahulah nanti, katanyasih mau di kasih sepeda, biar perjalanannya tambah cepet dan tidak terlalu capek.  Tapi…, entahlah…
Satu hal lagi yang di wanti-wanti Salamah, aku harus duduk di depan pintu gerbang.  Jangan sering jalan-jalan karena abuya akan marah-marah jika sampe ketahuan.  Aduuh…, di mananih kebebasanku, atau kebebasanku telah hilang saat aku memutuskan jadi TKI.  Di beli para abuya.  Ini nih, yang sulit sekali aku terima, hilangnya kebebasan.  Lalu apa artinya hidup jika tanpa kebebasan.  Tapi, mungkin inilah harga yang harus aku bayar jika ingin menjadi kaya.  Seperti juga yang telah di bayar tunai atau tempo oleh semua orang-orang kaya yang ada di dunia ini.  Mereka tak lagi punya kebebasan.  Di perbudak harta.  Di gerus waktu.  Tapi, mereka, seperti juga aku harus rela, jika ingin menjadi kaya.
Tapi, inilah kehidupan baruku
Duduk di depan gerbang, kaya para satpam atau bahkan kaya para herder
Tapi, inilah kehidupan baruku
Mengawasi orang-orang yang keluar masuk apartemen
Kaya intel aja atau para pencuri yang terus merencanakan kejahatannya
Oh tidak,  pikiranku tak boleh macem-macem
Ingin jalan-jalan seenaknya

Apalagi berkeinginan menjadi kaya di negeri ini

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar