Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 152 - NOVEL GRATIS

Masuk daerah Al-Bawadi dan berhenti di sebuah apartemen yang masih baru
Mungkin baru di tempati beberapa bulan
Aku mulai berpikir, “Inikah tempat kerjaku itu?”
Sebuah apartemen tingkat tiga
Di samping apartemenku ada sebuah apartemen yang kembar.  Arsitektur dan catnya persis sama.  Mungkin karena di bangun bersamaan dengan arsitek yang sama pulan.  Di kemudian hari aku tahu jika pemilik apartemen ini adalah saudara abuya.  Saudara ipar.
Di antara kedua apartemen inilah kamar kecilku berada.  Sebuah kamar kecil ukuran 2 x 1,5 m.  Di dinding kanan ada pintu ke Toilet yang merangkap fungsi sebagai kamar mandi, ukurannya Cuma 1 x 1,5 m.  Di depan pintu masuk di kasih atap agar dapat aku fungsikan sebagai dapur.  Bayangkan, betapa sumpek dan baunya kamarku ini.  Sebuah kamar yang akan aku tempati paling  tidak dua tahun.  Untung di sudut ruangan aku lihat ada AC butut, mungkin dapat sedikit mengurangi kepengapan dan bau tersebut.  Meskipn suaranya sangat nyaring kaya suara mesin Diesel aja.  Bisiing… Yahh… orang miskin di manapun memang selalu sama, di kurung di kamar kecil dan pengap.  Di perkerjakan di tempat panas dan kotor.  Duuhh…, Makanya aku benci pada yang namanya kemiskinan. Walau aku mulai terbakar dalam amarah dan kemarahanku sendiri.
Isi kamarku sama seperti di penampungan.  Sebuah kasur butut dan bantal yang telah nampak menghitam.  Entah dari mana abuya mendapatkan ini.  Padahal, inikan apartement baru, idealnya, peralatan untuk haritsnya juga serba baru.  Tapi nyatanya. Yahh… payah.  Di sudut kamar aku lihat tumpukan gerdus, mungkin di siapkan untuk menyimpan baju-bajuku. 
Kamarku tersebut berdampingan dengan kamar harits apartemen sebelah yang orang Pakistan. Orangnya tinggi besar, berkumis, kulitnya kasar, wajahnya nampak suram dan pakaiannya nampak aneh.  Pake sarung tetapi memakainya tidak seperti yang biasa aku lakukan    Satu lagi yang tiba-tiba membuatku tak habis pikir, tubuhnya bau, apakah karena jarang mandi atau apa ya, entahlah. 
Di depan apartementku ada dua apartemen yang arsitekturnya kembar juga.  Aku berpikir, mungkin keempat apartemen ini masing-masing mempunyai harits sepertiku.  Di kemudian hari aku tahu haritsnya adalah orang Banglades.  Mereka bilang orang Bangla. 
“Ini kamarmu Ali!”
“Iya kang”
“Kamu harus betah di sini, prihatinlah, inget kamu itu di Negara orang dan punya tujuan!”
“Kalau mau masak, di sini aja, ini gasnya, udah ada kok!”
“Lalu berasnya kang?”
“Oh ya, ini uang seratus real dari abuya untuk beras beras”
“Cuma seratus kang?”
“Iya, tahu mau ngasih lagi tahu apa tidak”

“Warungnya deket sini apa tidak kang?”

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar