Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 147 - NOVEL GRATIS

“Menurut mas slamet, Abuya Abdurrahman orangnya baik tidak?”
“Yah baiksih, tapi pelit banget”
“Maksudnya?”
Sudah empat tahun aku kerja di sin gajinya tak pernah naik, udah itu uang makannya Cuma seratus real dan tak pernah ada THR”
“Oh…, emangnya majikan lain gimana?”
“Kalau majikan lain, uang makannya ada yang ngasih dua ratus lima puluh real,  bahkan ada juga yang sampai ngasih tiga ratus atau tiga ratus lima puluh.  Selain itu gajinya selalu naik tiap tahun dan tiap tahun selalu ngasih  THR”
Lemes batinku mendengar penjelasan Slamet.  Aku yang tadinya berharap mendapatkan majikan baik dan suka ngasih duit untuk tambahan dari gajih asliku, ternyata kenyataannya begini, hilang sudah harapan untuk menjadi kaya dengan cepat.  Tapi mau gimana lagi, sudah nasib diri kaya gini.  Mungkin aku di tuntut terus bersabar.  Tapi sampai mana batas kesabaranku.  Aku takut kesabaranku ini begitu pendek dan rapuh. Lalu…, aku terjerumus ke dalam lembah yang tidak di inginkan akal sehatku.
“Terus, kenapa kamu tak pindah majikan aja?”
“Pindah majikan?, sulit, tak semudah yang kamu bayangkan?”
“Iya juga, terus, kira-kira berapa dia akan menggaji aku?”
“Entahlah, mudah-mudahan aja dia baik sama kamu”
“Iya, mudah-mudahan saja”
“Tapi, nanti kamu dapet cari tambahan”
“Tambahan?”
“Iya…, kamu dapat cuci mobil”
“Cuci mobil?”
“Iya, biasanya para harits atau penjaga apartment bisa dapet uang dari mencuci mobil orang-orang yang ngontrak, lumayanlah, satu mobil biasanya ada yang ngasih lima puluh real, bahkan jika orangnya baik, kadang ngasih seratus real tiap bulan, kamu bayangin jika kamu dapet cuci empat mobil dapet buat nambah uang makan”
“Ohh…”  Sambutku bersama harapan yang mulai tumbuh kembali.  Dalam hatiku tumbuh satu tekad, aku akan kerja sekeras mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin sehingga aku dapat ucapkan selamat tinggal kemiskinan.  Paling tidak waktu aku pulang kampong nanti.
“Abuya Ismail ada di mana sekarang?”
“Tadi sih dia sedang melihat mobilnya yang di perbaiki, paling nanti malam dia nemuikamu”
“Orangnya gimana?”
“Dia juga baik, berkumis dan kelihatan lebih serem”
“Maksudnya?”
“Dia lebih pendiam, kalau belum kenal, kesannya serem”
“Ohh…, berbiwaba maksudnya”
“Yah gitulah kira-kira”
Lama kami ngobrol

Tiba-tiba pintu kamar Salamah di ketuk

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar