Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 145 - NOVEL GRATIS

mengalami kejadian-kejadian buruk di Bandara maupun di penampunag yang mirip penjara ini.  Mana orang-orangnya nampak kusam, jauh dari senyum lagi.  Ahh…, sudahlah, toh semuanya telah berlalu.  Bersyukurlah Tuhan telah mengirimkan majikan ke sini. Jika tidak entah sampai kapan aku di tempat ini.  Entah sampai kapan aku harus bersama orang-orang sialan itu.
Calon majikanku nampak bicara dengan para petugas
Menandatangai beberapa dokumen
Menyerahkan beberapa lembar uang
Pasporku nampak di serahkan pada calon majikanku
Dan segera pergi
Otomatis aku mengikutinya.
Berjalan bersama Slamet supir calon majikanku
Sepanjang jalan aku tak banyak bicara
Diam
Kunikmati indah dan megahnya Kota Jeddah dari mobil mewah majikan.
Seperti ini nih yang aku inginkan.  Tapi bukan dengan mobil majikan, melainkan dengan mobil sendiri.
Seperti ini nih yang aku inginkan.  Tapi bukan di sini, melainkan di negeri sendiri.
Oh Tuhan, akankah semuanya terwujud
Amiin…
Mataku mencari-cari sosok patung yang biasa menghiasi jalanan di perkotaan.  Tapi tak satupun aku temukan.  Apalagi patung perempuan cantik telanjang.  Kuda telanjang aja tak aku lihat.  Beda sekali dengan kota Jakarta.  Aku hanya melihat tugu-tugu benda mati saja.  Ada tugu sepeda, kapal laut, bola, pancaran air, kotak-kotak tiga dimensi.  Pokoknya yang jauh dari nuansa-nuansa ngeseks gitudeh.  Tapi, kenapa masih ada orang-orang kaya laki-laki hitam itu.
Mobil yang aku naiki terus menelusuri jalan Al-Madinah Road
Berbelok ke Jalan Quraysh
Memasuki Distrik Al-Bawadi
Dan akhirnya berhenti di sebuah apartement bertingkat tiga
Pertama melihat apartemen ini kesannya angkuh, tak kulihat kelembutan.   Kokoh.>>>
Mungkin karena aku terbiasa melihat bangunan-bangunan dengan atap genteng.  Sementara di sini, seperti apartemen ini, tak satupun aku lihat beratap genteng.  Yah maklum, daerah jauh dari hujan.  Kata orang, paling hujan Cuma setahun sekali di kota ini.  Itu juga paling banter tiga kali setahun.  Sedanghkan di kotaku, Jakarta, wah cape deh jika mau menghitung banyaknya hujan dan curah hujan.  Kalau sedang musimnya, hampir tiap hari.
Kami turun dari mobil
Majikanku bicara beberapa saat dengan Slamet yang di panggil Salamah
Mungkin orang arab kesulitan mengatakan bunyi “t” sehingga memanggilnya Salamah, padahal nama aslinya Slamet.  Setelah itu dia bicara padaku beberapa kata.  Aku tak cukup mengerti, tetapi kira-kira,

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar