Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 144 - NOVEL GRATIS

Plong rasanya saat aku kembali di ruangan di mana orang-orang sedang pada sarapan. 
Aman
Legaa….
Duuuhhh… sampai kapankah jalan penuh duri ini berlalu.  Oh Tuhan tolonglah hamba-Mu ini.
Kadang aku berpikir, apakah semua nasib para TKI sepertiku.  Di bayang-bayangi kabut hitam, kegelepan, kepedihan, ketakberdayaan dan tangisan batin sebagai wujud kemiskinan yang terus saja menggurita.
Segera kuusap air hangat yang meleleh di pipiku
Tangisss….
Aku jelas tak boleh nangis, sebab perjalanan sudah sejauh ini
Lagian takkan ada yang perduli
Pantang untuk menangis.  Walau nasibkupun aku taktahu gimana.
“Ali Ahmad…!”  Teriak seseorang dari balik pintu
“Ali Ahmad…!”  Teriaknya lagi
Mendengar panggilan tersebut hatiku terus bertanya-tanya.  Apakah yang di maksud adalah aku.  Atau orang lain.
Kemudian aku lihat ada seorang Indonesia yang masuk ruangan ini, “Apakah ada Ali Ahmad dari Indonesia?”  Katanya
“Ya ada mas…!”   Jawabku dengan nada gembira.  Ada harapan tersembul dari pekatnya rasio.  Beginikah rasanya bertemu orang satu bangsa di negeri asing.  Terasa sangat dekat.  Sedekat saudara.  Bahkan lebih dekat lagi.
“Sini mas ikut saya…!”  Tambahnya
“Baik”  Jawabku sambil mendekat
Aku mengikutinya masuk ke sebuah ruangan para pegawai tempat ini. Mungkin kantor atau hanya sebatas tempat menerima tamu saja.  Aku lihat seseorang dengan pakaian khas Arab Saudi yang kelihatannya bukan pegawai tempat ini.  Laki-laki  yang memanggilku tadi nampak bicara dengan laki-laki berpakaian putih ini.  Kain sorban melingkar di kepalanya.  Mungkin majikannya.  Pikirku 
Selanjutnya si laki-laki Indonesia mulai bicara lagi.
“Ali…” demikian dia memulai pembicaran
“Ini calon majikanmu, namanya Abdurrahman, aku Slamet supirnya”
“Oh…”  sambutku gembira sambil bersalaman dengan calon majikanku.  Kucium tangannya, sebagai tanda penghormatan ala orang-orang Indoensia.  Dia nampak menolak.  Kemudian  bicara beberapa kata dengan Slamet supirnya.
“Dia bilang, kalau salaman tak usah pake cium-cium tangan segala, tak bagus katanya”  Slamet berusaha menerjemahkan kata-kata majikannya padaku.
“Oh ya ya…!”
Meskipun kini aku telah ketemu dengan majikanku, aku tak habis pikir, kenapa dia tak menjemputku kemarin di Bandara.  Apakah dia sengaja menyepelekan para TKI atau malahan menghina para TKI. Entahlah.  Yang jelas jika dia menjemputku kemarin, maka aku tak harus

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar