Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 142 - NOVEL GRATIS

Sebagian orang-orang yang telah bangun mendekati makanan tersebut.  Tanpa cuci tangan dan cuci muka mereka mulai memakan makanan tersebut. Roti yang begitu besar, di robek, kemudian di masukkan ke dalam sayur atau bubur namanya dan amm… mereka makan.  Sungguh nampak lahap sekali mereka memakannya.  Baru kali ini dalam hidupku melihat makanan yang kaya begini.  Ihh bagaimana  rasanya.
Karena tak ada makanan lain dan perutku juga mulai berbisik minta di isi, aku mendekat pada salah satu kerumunan orang-orang yang sedang pada sarapan.  “Permisii…!”  bisikku.  “Haiwah…, ta`al, future-futur…!”  Jawab salah seorang dari mereka sambil memberikan tempat untukkku.
“Indonisie…?”  Tanya salah seorang lainnya
“Na`am…, Indonesia…”  Jawabku mengira-ngira jika dia bertanya apakah aku orang Indonesia?
Kuambil sebuah roti>>>
Masih hangat>>>
Aku robek>>>
Buset kerasnya>>>
Aku masukkan roti ke dalam yang seperti bubur kacang merah. 
Ah rasanya begini.  Sungguh tak enak  Anyeb, sedikit asin, daaann… di lidahku terasa sangat aneh.  Mungkin, karena baru pertama kali aku makan makanan kaya gini.  Entah ini makanan orang kaya ataukah orang miskin.
Menghargai orang lain,apalagi aku orang asing, aku berusaha menyembunyiakn ketidak sukaanku terhadap makanan ini. Jika kumuntahkan, kasihandeh yang lain lain.  Tapi…, jika aku telan kasihan dong perutku. Laluu, gimana…? Ya udah biarin aja. Lewat semaunyanya  di jalan tol ususku. Abiis gimana lagi, paling aku tutupi mulutku. Sambil menelan makanan yang aneh ini.
Kurobek lagi kue besar ini
Lembek, tipis, kenyal, sangat a- lot dan sedikit berminyak.  Mungkin yang ini lebih gurih dan enak, pikirku.
Kumasukkan kedalam yang seperti sayur lodeh terong, tapi lebih ledrek dan lebih kental lagi. Aam… aku makan roti ini, tapi, rasanya tetap aneh di mulutku.  Tapi, karena tak ada makanan lain, aku paksakan masuk kedalam perut.  Hingga aku rasakan perutku seperti menolaknya. Nah nah lohh… mulai mules kan.
Aduuh mananih minumnya.  Batinku.  Masasih Cuma ini, air yang kaya air mentah begini. Mana kotor lagi.  Tempatnyapun nampak berlumut.  Gek…gek… kuembat juga minuman ini dan gleseer…lewat di tenggorokan dan turun ke lika-liku usus.  Terasa dinginnya.  Terasa alirannya. Hiiihhh…
Lumayanlah….
“Syukron… syukron…!”  Kataku sambil mundur

“Halas…?”  Tanya salah seorang dari mereka.  Aku tak mengerti apa itu artinya halas.  Tetapi kira-kira uwis…? Atau, kamu makannya sudah, begitulah. Karenanya aku jawab saja “Na`am… na`am”  Karena hanya kata ini sajalah yang sepertinya sangat aku kenal artinya.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar