Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 135 - NOVEL GRATIS

Bergegas…
Terburu…
Dengan wajah yang makin pucat…
Karena nyeri yang menekan daerah bawah puser
Kutelusuri ruangan kaca yang megah ini
Tak ada tempat yang lebih berharga sepertinya selain Toilet
Tidak juga kios permata yang berjejer sepanjang jalan yang aku lalui…
Apalagi yang lainnya
Yeeesss…
Akhirnya aku lihat tulisan Toilet dengan gambar laki-laki dan perempuan
Pasti ini tempat buang air, pikirku
Segera aku berbelok, benar saja, ini memang toilet
Lega rasanya setelah buang air
Di depan cermin yang terpampang di dekat pintu sesaat aku beridiri.  Merapikan rambut, pakaian dan yang lainnya.  Sambil terus berpikir, aduh gimana niihh…, bingung…, was-was dan berkembang menjadi rasa takut.
Hingga…
“Haahh…, Shaa… Sha… Shafiya…?!”  Tanyaku kaget pada perempuan yang lewat di sampingku
“Alii…?”  Sambutnya
“Yah…, aku Ali, kamu Shafiya kan?”
“Bener Ali, gimana udah di jemput majikanmu belum?” 
“Belum, tahulah, kamu sendiri gimana?”
“Alhamdulillah, aku udah, mereka nunggu aku di luar”  jawab Shafiya sambil mendekatiku.  Hingga sangat dekat.  Tangannya di sodorkannya bersalaman denganku
“Syukurlah kalau begitu”  Kataku sambil menyambut tangan Shafiya
“Ya udah aku duluan ya, takut majikan menunggu terlu lama!”  Tambah Shafiya sambil mencium pipiku.  Aku sungguh terkejut.  Hanya bisa terbelalak.  Diam bersama berjuta rasa.  Maklumlah dia orang kedua yang berani meklakukan hal ini padaku setelah Fina.  Tak menyangka dia melakukan ini.  Hingga ketika dia telah keluar dari ruangan toilet yang cukup besar, barulah aku dapat menjawabnya.
“Ya dadaaahh…!”  dengan tangan melambai.   
Perbuatannya tadi sesaat mengurangi rasa lapar di perutku
Tapi…, sialnya…, benar-benar sesat, karena segera terasa perutku yang kelaparan dan koclak karena hanya terisi air kulkas pinggir jalan tadi. 
Keluar toilet, kembali aku bingung
Berjalan menuju ke tempat duduk kembali
Mataku mulai jalang, pandang kiri kanan, depan belakang.  Siapa tahu ada yang dapat di makan dengan gratis. Aku perhatikan seorang laki-laki yang tengah makan di antara deretan kursi-kursi.  Makanannya begitu banyak, tak mungkin di habiskan sendirian.  Terus kupandangi hingga akhirnya dia pergi.  Bungkus makanan masih tergeletak dia atas bangku. 

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar