Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 130 - NOVEL GRATIS

“Di sini, bantuin dong!”  tambahnya nampak gembira sambil memasukan tas bawaannya ke dalam kotak yang tersedia di atas tempat duduk.
            Pesawat mulai bergerak>>>
            Makin cepat>>>
            Terangkat>>>
            Dan makin cepat laki
            Aku was-was…
            Syukur, akhirnya pesawat yang kami tumpangi tenang di udara
            Bumi nampak begitu indah dari udara
            Makin kecil saja indahnya bumi yang nampak
            Di atas samudra nampak banyak sekali kabut putih
            Tinggi dan makin tinggi
            Kalau tahu kue lapis, pemandangan yang aku lihat saat ini seperti kue lapis saja.  Aku seperti berada di antara berlapis-lapisnya kue lapis.  Warna-warni indah, bagai pelagi, bahkan lebih indah lagi.  Sungguh aku tak pernah menyangka jika di tengah-tenah pekatnya kabut ternyata ada ruang yang begitu indah menakjubkan yang dapat di lalui pesawat terbang.  Sungguh ciptaan Tuhan yang tak ternilai harganya seperti keajaiban manusia yangmenebukan keajaiban ini dan dapat melaluinya.
            Dari jendela kaca di sampingku nampak sayap pesawat begitu besar dan panjang.  Entah berapa ukurannya.  Terus menembus angkasa.  Entah di angkasa mana saat ini.  Aku hanya berpikir, sungguh hebat manusia ini, dapat menerbangkan besi dengan bebannya yang sangat berat.
            “Fi…, indah banget yaa…?!”  Bisikku yang tak sanggup menahan ketakjuban ini dalam nuansa batinku.  Abiisss indah banget decchhh… sampe-sampe aku tak bisa melukiskanya.  Semua semua yang aku lukiskan di sini, belum sedikitpun melukiskan apa yang aku rasakan dan apa yang aku lihat ketika aku berada di ketinggian alam ciptaan Tuhan YME. Oh sungguh.
            “Iya, baru kali ini aku melihat pemandangan seindah ini”
            “Sama, aku juga Fi”
            “Eh…, makasih ya, kemarin jika tak ada kamu entah gimana nasibku kini”
            “Udahlah”
            “Eh nanti di Jiddah kita bisa saling ketemu lagi tidak ya?”
            “Mudah-mudah aja, Kamu Jeddahnya di mana?”
            “Kata Pak Amir sih di daerah Faysaleyyah
            “Yah, kapan-kapan saya cari, eh iya coba lihat paspormu!”
            “Kenapa emang?”
            “Biasanya ada nomor majikan atau perusahaan yang bisa di hubungi”
            “Oh iya”
            Kemudian kutulis nomor yang dapat mengantarku pada Shafiya nanti
            Begitupun Shafiya
            Sesaat kemudian>>>

            Aku lihat wajah Shafiya berubah>>>

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar