Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 121 - NOVEL GRATIS

“Eit… eit…!”  katanya berulang kali
“`Asya… `asyaa…!”  katanya lagi.  Tangannya di arahkannya ke mulut.  Mungkin karena melihatku tetap tertegun.  Bengong. Yah aku bingung.  Ngomong apaan sih nih orang?.  Untung dari isyaratnya aku tahu jika dia menyuruhku makan…
Yah makan
Melihatku seperti paham gitu, dia meninggalkan kamar 999 dengan satu isyarat
Ikuti aku
Masih ragu dan tetap waspada, aku mengikutinya
Melewati deretan kamar-kamar yang nampak sepi.  Mungkin kosong tak berpenghuni.  Lagian, bagi orang-orang berduit mana mau menginap di kamar kaya gini.  Satu, dua, tiga, kucoba hitung deretan kamar ini.  Ada sekitar sepuluh kamar, semuanya kosong, gelap.  Yah hanya kamar 999 yang terisi.  Jika malam gelap dan sunyi, rimbunnya pohon bambu mungkin terlihat bagai memedi.
Berbelok…
Lewati lorong dan taman yang memisahkan deretan kamarku dengan deretan kamar-kamar yang lain.  Kunaiki sebuah tangga dan berbelok kembali hingga sampai di sebuah ruang makan. 
Banyak orang
Tapi bukan itu yang membuatku kagum.  Wah gituuu….Karena aku baru kali ini melihat begitu banyak makanan di hidangkan.  Kerongkonganku makin tak sabar saja.  Bagaimana tidak, aku yang tidak sebulan sekali mendapatkan makan ikan atau daging, tapi di sini begitu banyak daging terhidang, begitu banyak ikan terhidang.  Gimana makannya nih.  Pertama aku hadapi sebaskon daging sapi yang aku yakin akan segera di isi manakala berkurang.  Kemudian aku hadapi sebaskom daging ayam. Lalu aku hadapi tumpukan ikan gurame yang bersebelahan dengan ikan-ikan yang tidak aku kenal.  Kemudian masih banyak lagi sayuran-sayuran yang belum pernah aku lihat sebelumnya.  Sayuran khas Pakistan yang di masak ala Pakistan pula. 
Sambil mengambil hidangan, aromanya terus menusuk hidungku, aneh…, karena belum pernah aku cium sebelumnya.  Bau bawangnya sangat menyengat, tak heran jika bawang bombay cukup terkenal di Jakarta.
Banyak orang…
Yang makan bersamaku.  Dari berbagai negara nampaknya.  Semuanya orang asing.  Kayanya hanya aku yang berasal dari Indonesia.  Itupun dengan tampang paling dekil.  Maafkan Indonesiaku jika di sini aku di pandang sebelah mata.  Bukan, bukan karena aku menghinamu, tapi…, karena emang tampangku begini, dekil… karena kemiskinanku.
Ehhh… enak juga masakan Pakistan, pikirku.  Meskipun banyak rasa-rasa aneh yang baru aku rasakan.  Tapi yang namanya daging, tetap enak kan.  Mataku tersentak, ketika aku lihat beberapa orang yang tadi sempat minta-minta uang nampak di ruang makan ini.  Mau pada ngapain mereka.  Siapa mereka. 
Sambil berusaha menyembunyikan diri, aku terus mengawasi mereka. Sebagian nampaknya memang pegawai restoran.  Tapi, laki-laki

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar