Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 120 - NOVEL GRATIS

Kamar 999
Tempatku menginap di kota yang kemudian aku kenal sebagai Kota Karachi Pakistan
Kamar 999
Tempat yang aku rasakan asing, membisikan perasaan takut
Apalagi beberapa orang tinggi besar dengan kumis dan brewok berdatangan.  Mau pada ngapain nih orang, pikirku.  Aku baru paham ketika beberapa orang dari mereka mulai membicarakan uang.
“Money… money…!”
Oh minta uang pikirku.  Sial amat nih orang.  Tak tahu aku orang susah apa
Jangankan memberi, selamat dari jerat kemiskinan juga udah bagus
“No… no money…!”  jawabku pelan, takut mereka tersinggung.  Bisa berabe.
Tapi, mereka tetap tak percaya.  Mereka tetap menunggu aku memberinya uang.  Tapi mereka tak banyak bicara lagi.  Hanya sesekali.  Mungkin mereka paham jika aku takkan pahan dengan perkataan mereka.  Mungkin mereka juga paham jika aku memang tak punya uang.  Tapi, siapa tahuu.  Bersama harapan yang makin mengecil mereka tetap saja tak beranjak dari kamar 999.
Akhirnya merekapun pergi
Plong…, perasaanku sedikit ngemplong
Tak ada lagi yang membikinku berpikiran macam-macam.  Memegangi paspor terus-terusan.
Kembali dapat kubernapas lega
Di luar sana
Matahari nampak tenggelam
Sinarnya redup merah mengundang gelap
Kurebahkan diriku sambil menerawang
Rasa lelah karena perjalanan dan perasaan kantukku rupanya tak cukup kuat memejamkan mata ini.  Perasaan asing, mungkin itu yang menghadirkan gelisah dalam jiwaku.  Marah pada orang-orang itu?, oh tentu…, tapi, mau gimana lagi?, ngelawan?, jelas tak mungkin. Negeri asing gituh meen.  Akibatnya, hanya diam sambil terus menerawang. Walau tetap siaga.  Siapa tahu ada sesuatu yang gimana gitu.
Remang…!
Diantara tidur dan terjaga
Kudengar suara pintu diketuk dari luar
Siapa, ada apa?,  Jangan-jangan seperti tadi, mo minta duit?  hiiih
Ce-klek…!
Dengan penuh siaga aku buka pintu kamar 999
Perlahan… dan sangat perlahan.  Bahkan sempat kuintip terlebih dahulu
Tapi, samar, dan tetap samar, tak jelas siapa. 
Orang di luar

Hingga aku dengar beberapa patah kata meluncur dari mulut seorang tinggi besar.  Hidung mancung, kumis dan brewok tebal. Kulitnya hitam.  Pemandangan yang jarang sekali aku lihat di kampungku.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar