Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 119 - NOVEL GRATIS

Akibatnya aku dan teman-teman hanya melongo saja. Tak paham.  Hingga ketika mereka mengeluarkan uang.  Sambil menyebut-nyebut rupiah rupiah dan real-real, kami mulai paham, jika mereka minta uang. Mungkin mereka kira kami orang-orang yang baru pulang bekerja di luar negeri sehingga banyak uang. Padahal boo… baru aja mau berangkat,  jangankan ngasih duit, nasib aja belum jelas.
“No no no money…!”  jawab beberapa temenku
“Haruss…!”  jawab orang-orang tersebut dengan logat yang aneh dan lucu.  Rupanya dia menhapal beberapa kosakata indonesia untuk situasi-situasi kaya gini. Uang, duit,  terima kasih,  mereka juga menghapalnya.
Aku sendiri ingat ada beberapa uang ribuan di saku.  Aku ambil aja dan aku berikan pada mereka.  Meskipun dengan raut muka yang kelihatan kecewa gitu tetapi tetap saja uang tersebut mereka terima.  Kesannya rupiah tak berharga sama sekali di mata mereka.  Apalagi ini, jumlahnya hanya sedikit.  Dasar rupiah pikirku.  Kasihan banget sih nasibmu kini.
Kami bergegas masuk hotel.
Registrasi
Di kasih kunci kamar
Dengan beberapa kunci kamar, para TKW di antara oleh seorang petugas hotel.  Atau siapa.  Kami tak pernah yakin mereka siapa.  Selalu ada kecurigaan bersamaan kesombongan tak ingin terlihat bodoh dan kuper.
Tinggal aku sendirian
Bersama bingung, khawatir dan bahkan takut
Ketika seorang yang entah siapa mengajakku, aku berpikir keras, gimana nih, apa yang harus aku lakukan.  Untung terlintas di benakku, mungkin ini offic boy yang emang punya tugas mengantar orang-orang yang akan menginap. Menginap?, mana aku punya duit?.  Tapi, aku ikutin aja deh, emang gitu seharusnya kali.
“Kemon… ayooo… ikuutt…!”  ajaknya dengan bahasa yang lucu.  Tangannya sigap menjinjing tas baju milikku.  Dari tampagnyasih sama orang susah kaya aku.
“Where….?”  Tanyaku sambil menebak jika arti kata tersebut adalah kemana.
“Khaamar… khamaar…!”  sambutnya
“Yess… yess… “  sambutku menganggut.
Aku berjalan di belakngnya
Menuruni tangga
Sial…, pikirku.  Bukannya naik ke ruangan yang aku pikir megah.  Malah ke bawah.  Lewati lorong sempit hingga akhirnya sampai di deretan kamar-kamar kelas ekonomi.  Seperti kamar milik para tetanggaku yang cukup kaya.  Inikah yang namanya hotel itu.  Dasar kuper.  Ke hotel aja belum pernah

Di depan kamar-kamar ini berderet beberapa rumpun bambu.  Rindang dan teduh.  Tidak seperti di kota besar.  Kaya di pinggir sungai kampungku.  Apalagi di ujung deretan kamar ini nampak ada kandang burung.  Menambah nuansa alami.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar