Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 118 - NOVEL GRATIS

“Apa kita sudah nyampai yaa…?”  tanya salah seorang saat bergegas menuju Bis
“Tahulah, ini Bandara Arab atau bukan?”
Di Bandara aku dan teman-teman di bawa seorang agen perjalanan keluar.  Setiap kami memang tak tahu apa-apa.  Hanya karena jumlah yang banyak sajalah aku dan kawan-kawan merasa aman.  Kami terus berjalan, lagi-lagi menyusuri ruangan kaca.  Mati…, seperti tak ada kehidupan.  Apalagi ini negeri asing.
Di depan pintu gerang bandara, kami di serbu belasan pengemis.  Tua muda.  Besar kecil.  Bahkan ada beberapa anak kecil.  Heran…, baru kali ini aku melhat pengemis bergerombol kaya gini.  Negara mana nih.  Kenapa banyak sekali pengemis.  Di kampungku aja yang namanya pengemis sangat jarang, mungkin hanya sebulan sekali aku melihat pengemis, itupun mereka sendirian, tidak bergerombol kaya gini. 
Sreeiiit….
Sebuah mobil minibus berhenti di depan kami.  Kemudian orang yang dari tadi mengajak kami menyuruh kami masuk.  Entah siapa orang ini.  Seandainya penjahat atau yang sejenisnya, kamipun takkan pernah tahu.  Kami hanya merasa aman karena kami bersama banyak orang, itu saja.
Pelan…, minibus mulai berjalan.  Para pengemis itu tetap mengejar kami, sambil men­yadongkan tangan.  Meminta, itu yang mereka lakukan. Mobil terus berjalan, menyusuri kota yang aku rasakan aneh.  Mana gedung-gedung pencakar langitnya.  Tanahnya juga kaya kering, bercampur pasir gitu.  Tak nampak rimbunnya tumbuhan yang hijau.  Hanya jarang.
Aneh…
Kota apa ini?
Tulisan-tulisan arab yang aku lihat di sepanjang jalan juga nampak aneh.  Tidak seperti yang sering aku lihat waktu aku mengaji.  Mungkin aku saja yang kurang pengalaman.  Atau ini bukan tulisan arab kaliya.  Lalu apa? 
“Eh kita di manasih?”  tanya salah seorang dari kami
“Tahunih, tapi kayanyasih bukan di arab saudi”   jawab salah seorang dari kami yang pernah kerja di Arab Saudi.
“Iya yah…, jangan-jangan kita tersesat?”  tambah yang lainnya
“Ah… jangan ngomong gitu…!?”
“Udah gi Ali, tanyain tuh orang, kita mau di bawa kemana?”
“Aku tak bisa bahasa inggris”
“Huuhh…, bahasa arab aja kalau begitu”
“Sama, apalagi bahasa arab”
Demikian, pikiran kami terus di selimuti kebimbangan. Tanpa pernah tahu apa yang akan terjadi.  Untung kami bersama. 
Kurang dari setengah jam, ketika mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah hotel.  Bertingkat, tapi tidak terlihat mewah. Kami segera turun.  Tak sangka jika orang yang mengantar kami dan beberapa orang yang baru kami lihat keluar dari hotel kemudian meminta uang.  Tentunya dengan bahasa yang tidak kami mengerti.

“Baksis… baksis…!”

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar