Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 116 - NOVEL GRATIS

Pramugari tersebut segera membukakan sebuah Fanta untukku.  Shafiya sendiri ketika di tanya mau minum apa dalam bahasa yang aku yakin tak pernah di ketahuinya  segera pula menjawab.  Fanta.
Setelah makan.  Kembali lampu di padamkan. 
Sesaat aku dan Shafiya saling sapa hingga akhirnya kantuk menghinggapi kami berdua.
Lelap dalam alam tidur.
Jika udah begini, sama aja.  Di pesawat atau di penampungan.
Cuma… di sini tidak terasa ada nyamuk
Entah mimpi apa aku malam ini.  Aku ingat-ingatpun tak jelas.  Begitu samar. 
Ketika tidurku terganggu karena kepala Shafiya  jatuh ke pundakku, sesaat aku ingat Fina.  “Sedang apa kamu Fina, adakah engkau ingat seperti aku mengingatmu?”  “Adakah engkau berjuang meraih cinta seperti aku melakukannya untuk menggapai cinta terdalam di relung hatimu?”  Atau semuanya telah berakhir?  Entahlah…!   Tuhan…, hanya padamu aku berbisik.  Dengarkanlah bisikan dari relung hatiku yang paling dalam ini.  Dari hati yang aku sendiri tak pernah tahu keajaibanya.  Ya Tuhan, dengan keajaiban hati, wujudkanlah keinginan hati ini.  Amin.  Kalau bukan padamu  pada siapa lagi aku harus meminta.
Sesaat, yah hanya sesaat.  Kemudian aku tepis pikiran itu.  Aku tak ingin berlama-lama dengan fantasi yang hanya akan mengganggu pikaranku saja.  Ngapain di pikirin. Toh perempuan banyak, tak hanya Fina.  Di sini saja ada Shafiya.  Tapi…, Fin… tak dapat aku melupakanmu.  Entah mengapa.  Mungkin karena engkau yang pertama bagiku, mengisi relung cinta di hatiklu.  Ohhh….,  seandainyaaa…?
Ketika kapal terguncang, aku segera terbangun.
Ada apa?
Apakah sudah nyampai?
Shafiya juga nampak terbangun
Guncangan makin keras
Kapal aku rasakan makin merendah. 
Iramanya juga tak beraturan.  Seperti tak terkendali. 
Brukkks….!
Kapal ini mendarat seperti burung jatuh saja
Semua badan kapal terguncang.  Bagai burung  menggelepar
Para penumpang panik.  Bahkan nyaris ada yang berteriak histeris.
Untung  beberapa pramugari dan para pegawai lainnya sigap mengatasi suasana sehingga kepanikan itu tak berjalan lama.  Situasi kembali terkendali.  Syukur-syukur
Para penumpang diharap tenang, pesawat telah berhasil mendarat dengan selamat”  demikian kira-kira pengumuman yang di dengar semua orang.  Sayang aku tak begitu memahaminya.  Coba kalau dulu aku rajin belajar bahasa arab di Madrasah Diniyah atau mendalami bahasa inggris di sekolah maka aku takkkan terlihat bloon kaya gini.  Ahhh…. Penyesalan emang selalu datang terlambat.
“Kenapa Ali?”  tanya Shafiya setelah reda dari kepanikanya.  Tetapi tangannya masih saja memegangi lenganku.  Mulanya refleks. 

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar