Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 115 - NOVEL GRATIS

“Makanya aku juga bingung”
Saat aku perhatikan, beberapa dari mereka nampak berwajah tak menyenangkan gitu.  Kaya sewot.  Tak suka jika kami ada di dalam pesawat.  Saat beberapa orang dari mereka mengeluarkan mesin pengisap debu, aku mulai mengerti jika mereka adalah petugas kebersihan pesawat.  Tapi, kok perempuan, udah ga` ada laki-laki apa?.  Maklumlah aku di besarkan dalam suatu budaya di mana laki-lakilah yang memikul tanggung jawab untuk mencari nafkah.  Plus laki-lakilah yang sesunguhnya wajib bekerja.  Makanya saat ada hal seperti ini maka pikiran negatiflah yang ada dalam kepalaku.
“Tidak pada keluar dulu mas?”  tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya.  Ada yang bisa bahasa juga rupanya.  Batinku.
“Mba ini di mana?”  tanyaku sekalian
“Singapur, lagi ngisi bahan bakar, sekalian naikin penumpang”   jawabnya singkat sambil terus bekrja
“Oh Singapur, perasaan kurang dari setengah jam kok udah sampai Singapur?”
“Iya yah, cepet banget?”  sambut Shafiya yang rupanya mendengar bisikanku
Setelah para perempuan itu turun.  Giliran para penumpang yang tadi keluar masuk kembali bersama para penumpang baru.  Rupanya kapal sudah mau berangkat pikirku. 
Jam tangan seharga lima ribu rupiah yang aku beli saat di penampungan menunjukan jam tujuh ketika perlahan pesawat yang kami tumpangi bergerak kembali.  Perlahan dan terus bergarak aku rasa mulai naik dan makin tinggi.  Di luar yang nampak hanya gelap.  Beberapa bintang yang aklu lihat nampak makin dekat saja. 
Entah di angkasa mana aku ini
Entah di atas langit mana aku ini
Para penumpangmulai diam.  Lengang.  Seperti aku yang mulai malas bicara.  Mungkin karena cape.  Kulirik Shafiya, matanya mulai redup.  Ngantuk. Dari wajahnya mataku terkonsenrasi pada bibirnya yang indah.  Sungguh.
“Eit…!”  tiba-tiba dua orang pramugari menawariku makan dalam bahasa Arab,Inggris atau Pakistan, karena tak pernah aku mngerti.  Yang aku tahu, mereka meletakkan sebuah baki penuh makanan di depanku dan juga di depan Shafiya.  Ini artinya makan.  Pelan aku bangunkan Shafiya.  Aku goncang tubuhnya lirih.
“Fi…, Fi…, makan Fi…!” 
Dia terbangun.  Setelah basa-basi kamipun makan malam bersama.
Beberapa saat kemudian kembali datang dua orang pramugrari menawari minum

“Water… Fanta…?!”  Aku ragu, ini minuman gratis apa harus beli.  Maklumlah, bagi orang miskin kaya aku, minuman semacam sprite  adalah minuman yang jarang sekali kami nikmati.  Bukannya tak ingin, tapi, mana ada uang untuk membelinya. Aku tengok kiri kanan.  Mengamati apa yang di lakukan orang lain.  “Rupanya gratis?” pikirku.  Secepat kilat aku menyebut Fanta.  Daripada malu.  Kaya orang bloon.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar