Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 114 - NOVEL GRATIS

mana ada batu di bandara kaya gini.  Tubuhku jatuh ke depan, seperti juga tubuh Shafiya.  Sesaat kami saling bersentuhan.  
“Esstt…, maaf”  bisikku dengan perasaan canggung gitu
“Maaf juga…”  jawabnya.  Mukanya nampak memerah juga.  Kikuk.  Tapi kayanya dia maklum juga jika hal barusan adalah insiden yang tak sengaja.
“Kapalnya kenapa ya Fi?”  lanjutku berusaha mencairkan suasana
“Tautuh, paling gangguan teknis aja” sambutnya yang juga tak mengerti sepertiku.
Selang beberapa saat, kapal yang aku tumpangi nampak bergerak dan terus bergerak. Cepat dan lebih cepat hingga lambat laun aku rasakan kapal tersebut sedikit terangkat.  Inikah rasanya naik kapal terbang?, batinku.  Kayanya biasa saja, tak ada yang istimewa.  Bahkan nyaris kaya naik omprengan di jalan berbatu desaku.  Jauh sekali dari bayanganku selama ini.
Tapii…, lambat laun berubah lebih halus, kaya naik Bis di jalan tol.  Yahh… kaya naik bis saja.  Dari  jendela kecil di sampingku,  langit nampak memerah, matahari emang sedang terbenam.  Pesawat yang aku naiki menembus awan yang nampak berlapis.  Kanan kiri indah, atas bawah juga indah, seindah pelangi.  Gelap dan makin gelap sehingga keindahan itupun mulai menghilang.  Tertelan malam yang makin merayap.  Duuh, inikah angkasa itu, yang selama ini hanya bisa memandangnya.
Beberapa lama kemudian, kapal yang aku naiki seperti merendah. 
Apakah sudah sampai?, batinku. 
Masasih, belum satu jam.  Mua nanya, malu, gemgsi ah.  
Hingga ketika Shafiya bertanya, “Kok kaya mau turun, apa udah nyampai?”.  Walau tak tahu apa-apa, aku tetap menjawab, “Mungkin mau berhenti sebentar”  Isi bahan bakar. Naikin penumpang.  Atau apalah.
Kembali aku rasakan seperti naik Bis di aspal berlubang.  Grudug… grudug.  Rupanya kapal emang benar-benar mendarat.  Kapal berhenti.  Sebagian penumpang berdiri.  Beranjak keluar.  Sebagian lainnya tetap duduk.  Sendiri-sendiri.  Aku, dan juga temen-temen TKW lainnya yang tak tahu apa-apa memilih duduk saja.  Takut ketinggalan.
Ada apa?”
“Mau ngapain?”
Dan pertanyaan-pertanyaan lain terus saja berkecamuk di kepalaku tanpa pernah berani bertanya.  Apalagi pada Shafiya.
Tiba-tiba masuk beberapa orang perempuan.
Membawa kantong goni, seperti tukang pulung di kampungku saja.  Jadi inget tetanggaku yang menggantungkan nafkahnya dari memulung rongsokan dan barang bekas.  Bedanya orang-orang ini tampangnya bersih dan cukup seksi.
Berambut pendek
Pake celana jeans
Aku uga sempat berpikir, “Aneh di kapal terbang kaya gini ada juga tukang pulung?”
“Mas…, tkang pulung yaa…?” bisik Shafiya

“Tahu tuh, tapi masasih?”

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar