Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 113 - NOVEL GRATIS

Ketika kami sedang bicara, tiba-tiba terdengar pengunmuman yang mnggema di seluruh ruangan,  “Perhatian-perhatian…., kepada para penumpang Pakistan Air Way harap bersiap-siap menuju ke pesawat, sekian dan terima kasih”
Orang-orang yang tadi nampak duduk dengan tenang kini nampak menyiapkan setiap barang bawaannya.  Sebagian mereka bahkan ada yang nampak berdiri.  Melihat ini, aku dan teman-teman yang lain turut menyiapkan barang bawaan kami, tentu saja di mulai dengan saling lirik dan pandang di antara kami, seakan saling tanya, gimana siap-siap apa.
Benar saja, sebuah pintu gerbang nampak terbuka, orang-orang menuju ke sana.  Aku pun ikut, seperti juga temen-temenku yang lainnya.  Persis di depan pintu gerbang nampak sebuah Bis telah siap membawa kami.  Mungkin ke kapal Pakistan yang tadi aku dengar.  Sebelumnya aku berpikir jika kapal terbang yang akan membawa kami telah stend by di depan  gerbang, kaya mau naik bis aja gitu.  Tetapi nyatanya tidak, karena bis yang membawa kami ternyata meluncur cukup lama juga.  Aku juga sempat berpikir, jangan-jangan salah lagi.  Tapi, kalaupun salah toh banyak temen, jadi tak perlu takutlah.
Terun dari Bis, kami langsung menaiki tangga pesawat.  Tangganya cukup tinggi dan di ujung tangga berdiri beberapa pramugari yang semuanya berhidung mancung, matanya tajam, postur tubuhnya tinggi, mungkin mereka orang-orang pakistan.  Dengan ramah mereka mempersilahkan kami masuk. 
“Selamat datang…!” kata mereka dengan logat pakistan yang cukup lucu kedengarannya.  Membuatku tersenyum, lucu, lumayan, hiburan gratis.  Gumamku lirih takut kedengaran orang lain.
Dalam pesawat, beberapa pramugari lainnya membantu kami mencari tempat duduk.  Secara kebetulan, bangkuku bersebelahan dengan tempat duduk Shafiya.  Lumayanlah, bisa untuk temen bicara.  Ketika baru duduk, aku berpikir.  Bagaimana rasanya naik kapal terbang.  Sebuah impian bagi masyarakat desa dan miskin kaya aku.  Enak banget kali yaa?.  Entalah.
Kembali pemberitahuan terdengar dari layar TV yang ada di depan kami.  Aku tak paham dengan pemberitahuan tersebut.  Karena di sampaikan dalam bahasa Arab, Inggris dan Pakistan.  Aku hanya menebak, jika para penumpang di suruh bersiap-siap.  Untung ada peragaan di layar TV sehingga aku mengerti bagaimana caranya memakai sabuk pengaman.
“Fi…udah pake sabuk pengaman belum?”  tanyaku sambil bingung memakai sabukku sendiri
“Belum niih…, bingung… tolong dong…!” sambut Shafiya
Tentu saja aku langsung mengiyakan dan sok-sok pinter gitu.  Gengsidong jika lelaki harus ketahuan bodohnya di depan seorang perempuan.
“Sini aku bantu!”
“Ya ya…”
Untung-untung… aku dapat belajar dengan cepat sehingga usahaku membantu Shafiya tak sampai gagal.  Upss… tiba-tiba kapal yang aku tumpangi tergoncang keras.  Kaya mobil nabrak batu aja. Eh

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar