Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 112 - NOVEL GRATIS

Inikah bandara?.  Terminal kapal mabur.  Sebuah gedung yang besar tapi bagai penjara kaca.  Maklumlah, baru pertama kali dalam hidupku masuk ke dalam sebuah gedung yang bernama bandara.  Kanan kiri hanya kaca.  Seperti tak ada kehidupan saja.  Banyak manusia tapi bagai pohon saja.  Tak saling sapa.  Karena memang tak saling ke­nal.  Diam, dengan mata tajam memandang layar kaca.  TV.  Sebagian malahan bingung, tak tahu apa yang harus di lakukannya.  Satu yang mereka, seperti aku juga,  paham.  Ikut-ikutan.
Dengan dada membusung, bersama dua belas TKW, aku telusuri lorong di gedung yang sangat asing bagiku ini. Tak ada yang mengantar sekarang. Karena Bu Nissa dan Pak Mamat hanya mengantar kami sampai agen penjualan tiket saja.  Setelah itu mereka pergi.  Tak perduli lagi dengan nasib kami.  Udah dapet duit ya udah.  Pergi aja.
Para calon penumpang, yang nampaknya bukan para TKI maupun TKW, duduk di tempat-tempat yang sudah di sediakan.  Jok yang cukup nyaman dan megah. Mereka nampak nyantai saja.  Mungkin karena sudah biasa.  Sementara kami, duduk di depan gerbang yang entah berapa jam lagi akan terbuka. Nampak kuper dan ada kekhawatiran yang tak semestinya.  Memang, si kaya dan si miskin selalu berbeda, takkan ada  per­samaan, karena emang di ciptakan berbeda agar dapat berkerjasama.
Apalagi aku, semua teman-temanku perempuan.  Seperti yang aku bilang, aku agak lambat jika harus akrab dengan orang baru.  Aku hanya diam.  Berkata hanya jika di sapa.  Untung, di antara  dua belas TKW ada Shafiya.  Paling tidak ada yang aku kenal.  Tak terlalu kesepian.
“Eh…, kebeneran ya Fi kita dapat berangkat bareng?”  Tanyaku mengusir ket­erasingan dan sepi dengan hati tak menentu dan ragu. 
“Iya Ali…”  Jawabnya masih ragu, mungkin tak enak sama temen-temen perem­puan lainnya
“Kamu, kerja di kota mana?”
“Aku…, sebentar…, di Kota Jeddah”  katanya sambil membuka paspor yang di simpan dalam tas kecilnya.
“Jendah?”  tanyaku kaget
“Iya, kenapa?”
“Sama…, aku juga di Jeddah”
“Oh… deket dong…?”
“Iya… iya…”
“Eh belum tentu…”  sambut salah seorang temen kami yang pernah kerja di Arab Saudi.
“Maksudnya?”
“Jeddah itu kota yang besar, kaya Jakarta, ada wilayah Bawadi, wilayah Salamah, ada wilayah Faysaleyyah, pokoknya luas deh”  tambahnya yang kayanya sudah hapal betul daerah Jeddah.  Maklumlah dia sudah berulang kali kerja di Jeddah
“Oh begitu ya?”
“Iya, makanya, meskipun sama-sama di Jeddah tetapi belum tentu deket, apalagi bisa ketemu sekala, waah jangan ngarepin dech!”
“Iya, lagian kita di sana jadi pembantu, jadi tidak bisa seenaknya gitu”

“Itulah, makanya aku bilang…!”

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar