Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 109 - NOVEL GRATIS

tak enak dan tersinggung, dengan pertanyaanku tersebut pak, hanya itu saja kok”
“Ya ya…., lalu Pak Mamat?”  Sambut Pak Amir yang rupanya mulai mengerti situasi yang terjadi pada orang-orang perusahaan yang di pimpinnya.  Memang sudah sejak dulu Pak Amir agak curiga pada gelagat Bu Nissa dan Pak Mamat ini.  Tapi yaah…Pak Amir tak dapat bertindak seenaknya.  Apalagi Bu Nissa dan Pak Mamat termasuk orang lama di perusahaan ini.
“Mengenai dia, mungkin karena kebiasaan buruknya saja yang suka minjem uang pada para calon TKI, dan merasa tak bisa mengerjain saya, yaa… jadinya ngomong yang tidak-tidak, selain saya juga banyak temen-temen yang lain yang di pinjemin uang, tanpa pernah jelas kapan di kembalikannya”
“Ya ya ya… sekarang saya mulai tahuu, begitu jadi ceritanya?”  Gumam Pak Amir kaya tak sadar jika di depannya saat ini ada aku yang terus memperhatikannya
“Tahu apa pak?”
“Ah tidak, kamu tak perlu tahu, apalagi ikut campur”
“Ba ba baik pak..”
“Oke oke…, kamu masih ingin ke Arab Saudi?”  Lanjut Pak Amir, sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan semula.
“Maksud bapak?”  Tanyaku bersama perasaan heran kenapa dia bertanya kaya gitu.  Ya jelas, aku di sini karena ingin menjemput nasib di luar negeri.  Di negeri tuan minyak.  Yang katanya sangat menjanjikan.  Selanjutnya yaaahhh… tetap saja terserah bagaimana Tuhan YME mau mengabulkannya.  Untung…, untung aku puny agama yang selalu menasehatiku, sabar bersabarlah, orang di cinta Tuhan YME.
“Maksuknya, kamu udah siap terbang dan kerja di Arab Saudi?”
“Oh yaa… pak, dari dulu saya sudah bulat, mau kerja di luar negeri..”  jawabku mantap.  Apalagi sempat terlintas di pikiranku perlakuan tengik Rudy dan keluarganya.  Awas…. Yang ada adalah amarah dan marah.  Ingin memunculkan diriku jika aku bukan seperti itu.  Tak pantas mereka hina begitu.
“Bagus kalau begitu, nih visanya sudah ada”   kata Pak Amir sambil memperlihatkan sebuah dokumen.  Mungkin ini yang di sebut visa, pikirku.  Sekilas aku baca.  Jeddah.  Apa itu  Jeddah.  Demikian yang muncul dalam pikiranku.  Maklumlah aku anak kampung yang bisa di bilang kurang berpengalaman.  Kota sebesar dan seterkenal Jeddahpun aku tak tahu.
“Ini visa saya pak?”  tanyaku ingin tahu dan memastikan jika yang ada dalam pikiranku emang bener
“Ya ya…, kamu mau tidak jadi Harits di Jeddah?”
“Harits…, harits itu apa sih pak?”  heran, meskipun pernah belajar bahasa arab di sekolah agama di masjid kampungku, tetapi, tetap tak tahu apa itu artinya harits.
“Harits itu kaya penjaga rumah atau tukang kebun gitu”

“Oh oh…, ya mau pak”  Dalam pikiranku terbayang, tukang kebun, paling Cuma nyapu, nyiram bunga, dan yah gitulah kira-kira, jadi aku bisa dong…

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar