Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 108 - NOVEL GRATIS

“Baik Pak?”  jawabku terbawa singkat,kaku,dingin dan yang jelas rada-rada grogi juga, bersama  tanya, kira-kira da apa ya, tak biasanya.
“Ali katanya kamu deket sama engkong kumis?”  Lanjut Pak Amir mulai membuka pembicaraan.
“Engkong kumis?”  tanyaku ingin meyakinkan engkong kumis siapa yang di maksud oleh Pak Amir
“Yaitu, engkong kumis tetangga kalian di penampungan”  jelas Pak Amir
“Yang suka pelihara burung dara itu Pak?”
“Iya iya, siapa lagi?”
“Oh…, Biasa saja kok Pak”
“Baik baik, apa saja yang biasa kalian bicarakan?”  tambah Pak Amir
“Yah sekitar anak-anak penampunganlah dan paling, masalah burung dara kesukaannya”  jawabku hati-hati agar tak salah bicara dan mulai membaca kemana rah pemibacaraan Pak Amir kali ini.
“Apa dia pernah cerita tentang masa lalunya?”
“Yah pernah sih, menurutnya, dia dulunya sangat kaya, pemilik perusahaan yang sekarang di jalankan Pak Amir”
“Dia menyebut-nyebut hal-hal yang berbau misteri gitu tidak?”
“Maksud Pak Amir?”  kembali aku heran dan menerka arah pembicaraannya.  Apa mungkin pertanyaannya ini ada hubungannya dengan misteri debu gunung galunggung seperti yang samar aku dengar waktu Pak Amir bicara sama Ibu Diyah.  Hiiih.  Coba nanti akaulihat saja.
“Ah tidak…, maksud saya apakah dia sekarang rajin ibadah?”  Jawab Pak Amir yang agaknya mengelak dari maksud pertanyaan yang tadi di lontarkannya sendiri. Nampak jelas dari raut muka dan sikapnya yang agak-agak berubah gitu. 
“Ohh kirain, yah gitulah pak, jarang, shalat jum`atpun kadang tak kelihatan, emang males kali dia ya pak” kataku mengimbangi pembicaraan Pak Amir.  Yah walau bagaimanapun dia adalah direktur tempat aku bernaung sekarang, jadi, pikirklu, tak ada salahnya jika aku pandai-pandai mengambil hatinya.
“Emang, dia dari dulunya gituh”  Pak Amir nampak senang karena usahanya berkelit rupanya berhasil.
“Ohh….gitu ya Pak?”
“Kata Bu Nissa dan Pak Mamat, kamu suka memprovokasi temen-temen di penampungan ya, apa bener?”  Tambah Pak Amir.
“Ah tidak kok Pak, biasa-biasa saja, mungkin mereka hanya salah paham saja kali pak?”  Bersama jawabanku ini, batinku bicara, kok Pak Amir sampai tahu, jangan-jangan mereka mengadu dan emfitnah aku di depan sang direktur agar mereka selamat dari kelicikan yang telah mereka lakukan.
“Tapi mereka bilang, kamu suka minta uang makan lebih banyak, dan sejak ada kamu, katanya anak-anak jadi susah di atur?”  Lanjut Pak Amir
“Oh itu, saya Cuma nanya, pada waktu saya di suruh tanda tangan  kwitansi kosong, saya nanya, loh kok kososng bu?, mungkin dia merasa

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar