Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 107 - NOVEL GRATIS

Nyesss… demikian yang aku rasakan ketika masuk ruangan kantor  yang emang ber-AC.  Dingin bikin betah.  Sejuk bikin ngantuk.  Bersih bikin kulit putih.  Belum pernah aku berlama-lama di ruangan ber-AC kaya gini.  Di kampung mana ada AC.  Apalagi di kehidupan orang miskin kaya aku, jauuh dech…!
Berbeda sekali dengan di luar, apalagi di penampungan.  Panas bikin keringat terkuras.  Gerah bikin mudah marah.  Sumuk  bikin ingin ngamuk.  Bikin hidup terasa makin susah.  Emang selalu ada perbedaan tempat bagi si kaya dan si miskin.  Suatu hal yang takkkan pernah dapat di ubah.  Kaya miskin, keduanya adalah kedudukan. Kedudukan miskin akan selalu bagi orang-orang miskin dan kedudukan kaya akan selalu bagi orang-orang kaya. Demikian hukum alam bicara. Yang duduk di tempat miskin jika ingin kaya maka pindahlah, tapi jika tak nyaman, jangan salahkan siapa-siapa.  Demikian juga sebaliknya.
 Kulihat Bu Nissa melirikku, sinis.  Wajah cantinya jadi nampak menggairahkan tapi mematikan.  Mungkin baginya, kini, aku bagai sebuah duri yang sewaktu-waktu bisa menusuk dirinya kapan saja.  Atau bagai pisau yang dapat menguak apa-apa yang di sembunyikannya puluhan tahun.  Entahlah…, terserah…, tapi…, tetap saja aku ingin memnadang wajahnya yang emang cantik, kayanyasih masih ada keturunan darah timur tengahnya.  Terlihat dari bentuk wajah,hidung dan sorot matanya. 
Meskipun demikian, tetap saja aku harus menyapanya.  Paling tidak untuk berbasa-basi sesama orang yang saling kenal gitulah.  Jika tidak, dia merasa tak nyaman , apalagi sampai tersinggung, waah bisa gawaat…, menambah panas suasana aja.  Salah-salah dia bikin yang aneh-aneh dan ujung-ujungnya mengganjal keberangkatanku.  Berabekan jika sampai begini? 
“Met siang buu…?”  sapanya pelan sambil sedikit menganggukankepala tanda hormat.  Bah padahal mahh…
“Siang, ada apa Ali?”  jawabnya dingin dan singkat.  Pura-pura acuh aja gitu
“Di panggil Pak Amir”  jawabku singkat juga
“Di panggil Pak Amir, ada apa?”  tawabnya kaget dan nampak cemas gituh
“Saya juga tidak tahu buu”  kataku mengatakan yang sebenarnya
“Oh, ya udah…”  tambahnya masih dengan nada singkat,dingin,acuh dan kaya tak suka gitu
Tok tok took…. Aku ketuk pintu beberapa kali
“Permisiii…!, bapak memanggil saya?”  kataku setelah melihat Pak Amir duduk di belakang meja kerjanya.  Dia kelihatan sibuk sekali.   Matanya kaya tak pernah berkedip karena takut kehilangan huruf-huruf yang ada di tumpukan dokumen-dokumen di atas mejanya.  Kasihan orang-orang kaya gini, matanya selalu sepaneg, oohh tentu saja pikiran dan isi kepalanya juga.

“Oh ya ya… cepetan duduk!”  Sambutnya dengannada datar dan cepat mempersilahkanku duduk di depan mejanya yang emang sudah di siapkan bagi tamu-tamu atau orang-orang yang mau menemui atau bicara dengannya.

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar