Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 106 - NOVEL GRATIS

Lalu…, Pada Tuhan YME aku berharap.  Aku berlindung.  Aku mengadu. Aku…, Semoga do`ku ini, seperti juga do`a-do`a orang miskin lainnya, terkabul  Amin…
“Sebentar aku ikut…!”  Kata Shafiya sedikit menahan langkah kami
Kulihat raut muka tak suka, cemburu gitulah, di muka Aliya.  Tetangga sih tetangga tetapi urusan cowok biasanya lain.  Apalagi jika telah menyangkut usrusan cinta dan birahi, waaah… lain lagi ceritanya
“Bukannya kamu masih betah ngobrol dengan tetanggamu?”  Tanyaku menyambut perkataan Shafiya
“Udah cukup kok, besok lagi”  lanjut Shafiya
“Ya udah, cepetan…!”  kataku sambil mbatin, rupanya nih gadis ingin deket-deket denganku. Cieeehhh… PD-nya. Biasaa kalii.  Jangan ke-PD-an gituh, ntar malu sendiri.
“Aliya…, aku pergi dulu yaa…!”  kata Shafiya pamitan pada Aliya sambil berciuman pipi.  Chuph…chuphh…, Duuuh… seandainya…., batinku.  Dasar… pikiranku emang sangat ngeres jika pada urusan kaya ginian.  Suka nganeh-nganehin aja. Maklumlah usiaku mulai dewasa.  Jadi hal-hal kaya gituan makin menggila berkembang dalam diriku.  
Baru saja mulai bercanda, kami sudah sampai di pintu gerbang PJTKI yang emang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari Warteg Aliya.  Mobil direktur sudah kelihatan parkir di tempat khusus.  Mobil lain tak boleh menempatinya.  Mobil kantor yang biasa di supiri Pak Mamat juga udah keliahatan parkir.  Para pengunjung yang mau menemui sanak keluarga juga nampak banyak sekali hari ini.  Mereka menunggu dengan muka yang kelelahan.  Maklum saja, mungkin semaleman mereka tak tidur dan kecapaian di kendaraan.  Rata-rata mereka datang dari luar kota, bahakan dari sebrang.  Jarang oarang-orang sekitar Jakarta sini.  Jadi bisa di bayangin kan betapa jauh dan melelahkanya perjalanan mereka.  Belum lagi karena kurang makan dan minum sebab untuk ngirit biaya selam di kota Jakarta. Wahh kasihan kan, tapi, itulah nasib orang miskin yang berjuang demi hidupnya.
Kulihat Pak Askari duduk di tempat biasanya.  Dengan pakaian satpam lengkap, jika begini, orang tua ini nampak gagah dan berwibawa.  Kepribadian prajurit sejati masih saja tergambar di raut mukanya.  Dia emang veteran.  Ketika melihatku datang, segera dia memanggilku, ada apa?, pikirku.
“Ali kemari…!”  dengan suara yang tegas dan cukup lantang ala prajurit
“Ya…, ada apa Pak?”  tanyaku setelah di depan beliau.  Pikiranku penuh pertanyaan yang aku jawab sendiri. Tumben.
“Di panggil Pak Amir”  Tambah Pak Askari
“Pak Amir, ada apa yaa?”  Dengan nada penuh tanya kembali aku bertanya pada Pak Askari
“Tanya aja sama beliau, sudah cepetan, katanya penting!”  perintah Pak Askari agar aku segera menemui sang direktur

“Iya iyaa, makasih pak…!”  Sambutku sambil menuju ke ruangan Pak Amir

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar