Cari Blog Ini

Senin, 28 September 2015

JALAN LAIN KE MEKAH 101 - NOVEL GRATIS

Duuuh indahnya, duuh merdunya, jkata siapa naik kereta ekonomi tak nyaman.  Buktinya aku, menikmatinya bersama Fina.
Di hadapan kami ada secangkir kopi.  Asapnya masih ngebul meninggalkan buih putih yang merangsang gairah kami untuk menyeruputnya.  Kami menikmatinya bersama, bergantian.  Bahkan dengan perasaan yang tak menentu, ada gairah, malu, keinginan, tak pantas, dan berjuta perasaan lainnya yang menyatu ketika secara bersamaan kami meminum kopi dari cangkir itu. Hidung kami saling bersentuhan.  Nafas kami saling memburu.  Mata kami redup saling memandang, hanya sesaat , karena kemudian terbit rasa malu yang menundukan pandangan kami, bahakansesaat aku terpejam, malu, tak opantas, tak harus begini, tapi gimanaaa…?. 
Duuuhh… kopi yang kami minum rasanya bukan kopi saja, bukan sekedar secangkir kipi, tapiii…, seperti secangkir madu yang di turunkan dari surga para pecinta,  surganya para sufi.  Bikin mabuk tapi tak memabukkan.  Bikin bahagia tapi tak menyusahkan.  Duuh Fina… masih ingatkah kau pada kenangan ini..
Saat itu aku dan Fina habis liburan di pantai yang begitu indah.  Pasir putih menghampar luas.  Pohon bakau menambah indah pantai,  menjadi tumpuan ombak yang saling berkejaran.  Kami saling berkejaran, bercanda, mandi di pantai, saling lempar pasir sebelum akhirnya terjatuh dan terbawa ombak bersama.  Hari indah begitu indah saat itu.  Entah dapatkah terulang kembali. Semoga… Duuuh takkan terlupakan. 
“Eh lagi ngopi apa ngelamun?”  sapa Fuad tiba-tiba mengagetkan lamunanku
“Eh iyaa…, abis kopinya enak banget sich?”  jawabku kaget
“Pastiii…, kapal apii… mana gratisan lagiii…?”
“Ah sialan kamu, eh gimana engkong kumis?”  Tanyaku mulai menyelidik dan ingin tahu  bagaimanakah sikap engkong kumis setelah semalam di intip dan burung daranya di curi.
“Aman-aman aja tuuh, belum tahu kalii?”  Jawab Fuad pasti
“Mungkin jugaa…, tadi aku tanya juga gitu, malahan suara-suara kalian di sangkanya adalah suara ribut para hantu dari Gunung Galunggung, aku bilangin suara pencuri dia malahan tidak percaya”
“Haah… hantu Gunung Galunggung, hua ha ha…, ada-ada aja tuh si engkong…!?”  Sambut Fuad tertawa geli atas apa yang aku katakan barusan.  Gimana ceritanya orang ngintip di samain sama hantu gunung galunggung.Demikian juga dengan  beberapa temanku yang lain turut tertawa cekakakan
“Eh Ali, kapan kamu terbang?”  Tiba-tiba Fuad berpindah topik.  Menanyakan sesuatu yang tak pernah aku duga.  Walau selalu saja kami bicarakan.
“Tahu tuh”  Jawabku yang memang benar-benar tidak tahu kapan aku akan terbang. 
“Eh tapi kayanya, Pak Amir ingin kamu cepet-cepet terbang, ada apasih, apa kamu nyogok sama dia?”  Lanjut Fuad mengungkapkan kecurigaannya.
“Nyogok…, tidak mungkin lah, dapet duit darimana gua?”

“Iya yah, apa ada alasan lainnya, tapi bener kamu tidak nyogok?”

Visi dan Misi Pesantren Blogger: Menjadi komunitas Blogger Santri Pengusaha yang beribadah dengan Ngeblog Nyantri Wirausaha. email pengelola: pesantrenblogger@gmail.com Blog: www.pesantrenblogger.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar